Friday, November 28, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 5)

Hal yang paling diperhatikan apabila akan lulus di SMP adalah kemana akan melanjutkan sekolah karena ada dua sasaran yang akan dipilih pada saat itu yaitu masuk ke SMA kalau ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi atau masuk SMK/Sederajat kalau akan langsung bekerja.

Sebagai orang yang belum punya rencana untuk masa depan maka orang yang paling berpangaruh untuk memberikan masukan adalah orang tua. Pada umumnya pada saat itu orang tua menentukan pilihan kepada anaknya dengan melihat trend pada saat itu. Trend yang paling diminati pada saat itu adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Karena orang tua saya sangat kagum terhadap perawat yang ada di rumah sakit maka saya diminta untuk masuk SPK apalagi pada waktu itu ada orang dikampung saya sebagai alumni SPK bekerja di Rumah Sakit dan menjabat sebagai Kepala Bangsal di Rumah Sakit tersebut, lengkaplah kekagumannya.

Untuk mewujudkan impian orang tua, setelah tamat SMP saya berangkat ke Ibu kota Provinsi untuk mendaftar ke SPK, saya memilih mendaftar ke SPK yang milik pemerintah karena pertimbangan biaya yang katanya lebih ringan dibanding SPK Swasta. Semua persyaratan sudah saya lengkapi sampai akhirnya Test dilakukan, setelah menunggu beberapa hari pengumumanpun keluar, saya memperhatikan urutan nama yang diterima dari nomer pertama sampai yang terakhir ternyata nama saya tidak terlihat.

Karena rencana sudah bulat untuk jadi perawat maka saya mendaftar kembali ke SPK Swasta walaupun biayanya agak lebih besar dari yang milik pemerintah. Sama seperti waktu mendaftar pertama diminta melengkapi semua persyaratan dan sampai tiba saatnya test. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya pengumuman itu keluar juga dan ternyata dari sekian nama yang tercantum di kertas pengumuman tidak satupun yang tercantum nama saya.

Karena merasa bahwa jadi pearawat hanya sekedar mimpi dan pada waktu itu tidak ada lagi SPK yang membuka pendaftaran maka atas restu orang tua, saya harus mencari sekolah yang dapat memberi saya harapan akan masa depan kelak dan melupakan impian orang tua saya untuk menjadi Perawat.

Dalam pikiran saya pada saat itu, Semoaga aku dapat menemukannya....

Selamat Berjuang untuk saya ...

Tuesday, November 25, 2008

Serupa Tapi Tidak Sama


Maksudnya adalah mungkin perjalanan hidupnya hampir sama tetapi nasibnya agak berbeda karena beliau sudah menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan mendapatkannya diluar negeri. Kalau bagi saya, pendidikan yang lebih tinggi itu masih dalam mimpi. Mudah-mudahan saya bisa mewujudkan mimpi itu.

Tuesday, November 11, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 4)

Ternyata pergaulan banyak juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang lebih tinggi pula, entah karena siswanya datang dari berbagai daerah atau karena wawasan siswanya yang sudah menjadi libih luas. Berbagai macam tingkah laku dan cara berbagaul yang nampak dikalangan mereka, mulai dari memilih teman sampai kepada cara memilih topik pembahasan ketikan kumpul dengan temannya.

Ketika saya memasuki pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP), persaan saya semakin tidak karuan karena ternyata apa yang selama ini saya lihat di SD berbeda dengan apa yang saya lihat saat ini. Yang paling tersa adalah kebiasaan kita berbahasa yang menuntut kita untuk meninggalkan bahasa daerah, sekarang kita harus selalu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Semua itu tidak jadi masalah kalau lawan bicara kita itu adalah sebelumnya kita tidak kenal, tapi bagaimana kalau lawan bicara kita yang sehari-harinya selalu memakai bahasa daerah, aneh sepertinya ingin menertawai diri sendiri.

Kesenjangan itu ternyata tidak pandang bulu, ternyata pada saat aku di SMP kesenjangan itu sudah sangat jelas terlihat. Mulai dari berangkat sekolah sampai kepada perbincangan tentang acara yang ada di televisi yang kebetulan pada saat itu yang namanya Antena Parabola sudah mulai masuk di Ibukota kecamatan tempat sekolah SMP saya berada walaupun kita yang dari desa televisi hitam putih aja gak punya. Upaya saya saat itu adalah berusaha untuk memasuki sebuah kelompok yang bisa nyambung dengan saya yang dalam hati kecil ingin memeperolah suatu pengakuan atau kebanggaan bisa berteman dengan mereka tapi semua itu ternyata tidak gampang karena paling tidak kita harus mempunyai nilai jual yang sebenarnya satu saja sudah cukup, seperti dibidang olahraga, seni atau modal tampang keren. Tetapi dasar dari kampung satupun kita tidak punya untuk bersaing ditingkat kecamatan, jangankan mau melihat bakat kita itu apa, wujudnya saja kita gak pernah lihat karena maklum playgroup aja kita gak pernah injak apalagi Taman kanak-kanak yang kata orang tempat untuk melihat bakat kita.

Karena dasar memang tidak punya mimpi maka kalah sebelum bertanding itu adalah hal yang paling sering kita alami. Oleh sebab itu hanya belajar dan belajarlah yang kita jadikan kegiatan rutin walaupun entah kita mau kemana nantinya. Dengan segala perjuangan akhirnya bisa juga menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun dan berharap masuk 10 besar dari seluruh siswa SMP pada saat itu tapi ternyata kata guru saya hampir masuk 10 besar, saya sendiri bingung hampir itu berada diposisi mana karena sampai aku meninggalkan sekolah saya tidak pernah melihat peringkat itu.

Selamat berjuang....

Wednesday, October 08, 2008

Pengalaman Pertama

Setiap kita akan menjalani setiap aktivitas sehari-hari pasti segala sesuatunya sudah tersusun dengan rapi sebelum kita meninggalkan rumah tapi apa yang kita rencanakan terkadang terjadi sesuatu yang tidak pernah direncanakan atau tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Seperti halnya apa yang saya alami pada tanggal 8 oktober ketika pulang menjemput istri dan anak saya dari bandara, pada saat sedang melaju di jalan tol tiba-tiba mobil mogok dan tidak sampai satu menit datang petugas tol dan meminta memeriksa mesin mobil, setelah diperiksa ternyata radiatornya meledak dan tidak akan mungkin diperbaiki di jalan tol, akhirnya mobil harus diderek.

Itulah pengalaman pertama saya merasakan tumpangan di atas mobil derek menuju bengkel, karena mobil harus tinggal dibengkel maka saya harus menumpang taksi setelah meninggalkan bengkel. Selama hidup saya yang saya tahu adalah sopir taksi adalah seorang laki-laki dan itu saya buktikan selam menumpang taksi, tapi pada hari itu saya kaget dalam pikiran saya apakah saya salah membuka pintu mobil yang berhenti di depan saya karena setelah membuka pintu mobil saya melihat pemandangan yang aneh yang belum pernah saya lihat sebelumnya yaitu Taksi dikemudikan oleh seorang perempuan.

Itulah dua pengalaman pertama yang saya alami dalam satu hari itu, hikmahnya adalah dalam keadan apapun kita harus selalu siap menerima dan menghadapi tantangan dan resiko yang kita tidak rencanakan sebelumnya.

Wednesday, August 13, 2008

Etika Individu atau Etika Struktural...?

Banyaknya masalah yang timbul di negeri ini merupakan suatu bahwa belum adanya titik temu atau apa yang mendasari sehingga masalah-masalah itu bermunculan. Yang paling menjadi sorotan yang paling menonjol saat ini adalah munculnya kasus-kasus korupsi dan pemberantasan korupsi, selain itu muncul pula kasus-kasus kriminal baik yang berskala kecil maupun yang besar.
Sebagai pertanyaan, apakah yang harus dibenahi di negeri ini...? beberapa hari yang lalu saya mendengar ceramah seorang tokoh yang sangat populer saat ini, menurut saya apa yang dikatakan sangat relevan yang dengan apa yang dialami oleh bangsa ini. Menurut beliau yang perlu dibenahi adalah masalah ETIKA yaitu Etika Individu dan Etika Struktural.
Sebagai Ilustrasi, ada orang yang secara individu mempunyai etika yang tidak baik tapi karena berada dalam satu Struktur Baik sehingga orang tersebut menjadi baik begitupun sebaliknya karena Strukturnya jelek maka orang baik pun bisa jadi tidak baik. (Sebagai contoh, 1. Seseorang yang biasanya ugal-ugalan dijalan menjadi tertib ketika masuk dijalan tol yang masuk atau keluar tol harus bayar dan tidak boleh zig-zag untuk menghindari tabrakan, 2. Perempatan Lampu Merah yang lagi rusak disitu terdapat orang-orang baik menjadi tidak baik karena saling berebut untuk dapat meloloskan diri dari kemacetan).
Dari cerita tersebut diatas menurut saya adalah yang perlu dibenahi adalah kedua-duanya yaitu Etika Individu dan Etika Struktural. Tapi yang menjadi pertanyaan sangupkah kita membenahi kedua hal tersebut.
Selamat Mencoba....

Tuesday, August 12, 2008

Menuju Detik-detik Proklamasi Yang ke 63

Beratnya perjuangan para pendahulu merupakan sesuatu yang sangat menakjubkan, karena begitu beratnya perjuangan mereka. Pejuang pada saat itu mepunyai peran masing-masing dalam rangka memerdekakan untuk mensejahterakan rakyat. Soekarno pada saat itu merupakan orang yang paling berperan dalam menyatukan semangat dan pandangan kepada seluruh komponen masyarakat pada waktu itu.
Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat luas yang terdiri atas berbagai macam kemajemukan, suku agama dan ras merupakan hal yang sangat kompleks dimiliki oleh Indonesia. Untuk menyatukan hal tersebut dibutuhkan suatu isu tau semangat yang bisa menyatukan pandangan para pejuang tersebut.
Sukses Soekarno dan para pejuang lain pada saat itu merupakan sesuatu yang perlu direnungkan oleh kita semua yang akan melanjutkan warisan yang berikan kepada kita semua. Semangat yang diusung pada saat itu adalah semangat untuk menjadi suatu bangsa yang merdeka dan sejahtera tanpa melihat yang namanya suku, agama dan ras sehinggga yang namanya Indonesia yang dibalut dengan semangat pancasila berdiri dengan kokoh.
Setelah Indonesia menjadi negara yang disegani karena dengan kekuatan kebersamaannya datang Soeharto dengan semangat mebangun ekonomi dan sukses juga membawa bangsa Indonesia menjadi negara yang paling disegani dengan kemajuan ekonominya bahkan pernah di juluki Macan Asia. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa langkah yang sudah di tapaki ke jenjang yang lebih tinggi harus turun lagi ke titik Nol pada saat pergantian kepemimpinan. Negara tetangga sebagai negara seperjuangan berhasil menaiki tangga tersebut tapi bangsa Indonesia terpuruk untuk memulai lagi dari nol.
Isu apakah yang harus dikembangkan di negeri ini untuk memancing kembali rasa kebangsaan dan kebersamaan dulu yang sudah hampir luntur dikalangan masyarakat kita karena menurut saya untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangkit harus ada Isu yang sangat kuat sehingga semua komponen bangsa ikut berjuang tanpa memandang Suku, Agama dan Ras.
Contoh sederhana, dulu karena kita merasa dijajah oleh Belanda dan Jepang maka kita ramai-ramai untuk mengusir para penjajah tersebut keluar dari negeri kita, sekarang bagaimana...? apakah kita sadar bahwa kita sedang di jajah oleh orang India dengan Sinetron dan Film yang menyesatkan, apakah ini bisa dijadikan Isu...?
Selamat berjuang....MERDEKA....

Monday, August 11, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 3)

Olahraga yang paling populer pada saat saya duduk di Sekolah Dasar adalah olahraga tinju karena kebetulan pada saat itu yang menjadi juara dunia adalah orang Indonesia yaitu Elyaspikal. Karena pada saat itu dikampung belum ada listrik apalagi televisi maka informasi tentang petinju kebanggan Indonesia tersebut hanya bisa di saksikan lewat serial wayang kertas atau didengar lewat radio transistor tetangga yang sangat menggelegar dan diulas pada saat selesai pertandingan.
Karena begitu terkenalnya karena setiap pertandingan selalu mempertahankan juaranya timbul juga keinginan untuk menyaksikan secara langsung di televisi bagaimana sang petinju tersebut mengalahkan lawan-lawannya. Suatu ketika ada sorang sopir mobil yang memperistrikan orang kampung saya mengajak kakek saya untuk menonton aksi petinju tersebut maka ajakan tersebut diasambut dengan baik karena kebetulan kakek saya sangat mengagumi petinju tersebut. Mungkin karena sering memperhatikan saya bermain-main dengan wayang bergambar sang petinju tersebut, maka kakek tidak lupa untuk mengajak saya untuk menonton langsung di layar televisi.
Dengan mengendarai mobil mini bus yang warnanya sudah tidak jelas yang penuh dengan bekas-bekas ketokan yang baru kalai ini saya menyadari kalau mobil tersebut kalau istilah sekarang lagi proses ketok magic. Dengan menempuh jarak kurang lebih 40 km menulusuri jalanan yang belum diaspal sampailah kita ditempat tujuan untuk menonton secara langsung aksi petinju juara dunia dari Indonesia. Pada saat itu jelas terlihat begitu antusisnya orang berdatangan untuk menyasikan aksi petinju kebanggaan Indonesia tersebut.
Karena pertandingan belum dimulai maka kita pergunakan untuk istirahat setalah menempuh perjalan yang sangat melelahkan sampil memperhatikan tuan rumah sedang memutar-mutar antena televisi yang tiangnya dari bambu untuk mencari posisi yang tepat untuk menagkap siaran TVRI yang paling sempurna tanpa ada bintik-bintik.

Thursday, April 24, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 2)

Bangun pagi kemudian bersiap-siap untuk berangkat kesekolah adalah kegiatan rutin yang selalu saya jalani pada saat itu. Dengan bangga menggenggam sebuah buku yang kebetulan buku tersebut mempunyai gambar dibagian luarnya sehingga dengan sengaja gambar tersebut dibiarkan terlihat oleh semua orang yang kebetulan berpapasan dengan saya, dan lama-lama gambar buku tersebut memudar karena selalu terkena sinar matahari karena pada saat itu belum menggunakan tas untuk menyimpan segala peralatan tulis menulis.
Kata-kata yang selalu terdengar di telinga saya bahkan telinga teman-teman sebaya pada saat itu adalah "Gantunglah Cita-citamu setinggi langit " namun kata-kata itu gampang dimengerti tetapi karena keterbatan wawasan maka kata-kata tersebut nyaris terabaikan. Bagaimana mungkin kita mau menggantungkan cita-cita atau bermimpi-mimpi kalau untuk melihat ibukota kecamatan saja bisa dihitung jari karena kesempatan berkunjung ke ibukota kecamatan kalau ada perayaan 17 Agustusan.
Untuk memperoleh wawasan sangat membutuhkan yang namanya media teknologi informasi baik cetak maupun elektronik. Pada saat itu ketika masih duduk dibangku sekolah dasar jangankan Televisi atau Radio, yang namanya koran saja kita tidak pernah memegang wujudnya, kita cuma mengenalnya dari gambar-gambar pada buku yang kita punya. Oleh sebab itu kita mau mengambil inspirasi dari mana...? tidak pernah menonton televisi, tidak pernah dengar Radio dan bahkan jarang sekali membaca yang namanya koran. Kita dapat membaca koran kalau ada tetangga yang kebetulan mempunyai keluarga di kota kemudian mendapat kiriman yang kebetulan pembungkusnya adalah koran, itupun adalah berita yang entah berapa bulan lewat.

Tuesday, April 08, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 1)

Saya dilahirkan di sebuah desa yang penuh dengan kedamaian yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari ibu kota Kecamatan, 60 kilometer dari ibu kota Kabupaten dan sekitar 350 kilometer dari Ibu Kota Propinsi. Seperti halnya anak-anak yang saya dibesarkan dengan penuh kesederhanaan tapi penuh dengan cinta kasih mulai dari kedua orang tua, kakek dan nenek.
Sebagai bentuk tanggung jawab bapak sebagai kepala keluarga maka pada saat itu kita sering ditinggal bahkan sampai setahun lamanya untuk menghidupi keluarga. Bapak mempunyai saudara laki-laki tapi pada saat beliau meninggal dunia pada saat sedang belajar di Sekolah menengah Atas sehinggga praktis pada saat itu tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang kakak. Pada saat itu ibu yang merangkap sebagai kepala keluarga karena kakek pada saat sudah tua sedang nenek juga sudah duluan menghadap yang maha kuasa.
Pada saat umur menginjak 6 tahun saya dimasukkan ke sebuah sekolah formal di desa kami bersama teman-teman sebaya walau sebelumnya tidak mengenal yang namanya Pendidikan Anak Usia Dini seperti yang ada di kota pada saat itu. Perasaan bangga dan terharu ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah dengan memakai perlengkapan yang serba baru walaupun tidak pas di badan.

Sunday, March 30, 2008

Dimanakah Ayat Cinta Itu...?

Film Ayat-ayat cinta sampai saat ini sudah dinonton oleh lebih kurang dari 3 juta orang bahkan 2 orang petinggi di Republik ini sudah menyempatkan untuk menonton Film tersebut. Jumlah tersebut sudah melampaui jumlah penonton Film Naga Bonar Jadi 2.

Sebagai orang awam dan orang tidak mempunyai kompetensi untuk menilai sebuah hasil karya yang namanya Film, saya hanya mengacu kepada puas atau tidak setelah menonton film tersebut. Setelah menonton Film Ayat-ayat Cinta saya belum menemukan apa sebenarnya yang menjadi keistimewaan - keistimewaan Film tersebut karena saya tidak dapat melihat siapa peran yang membuat hidup Film tersebut, baik Fahri, Aisyah ataupun Maria.

Kalau boleh saya mengementari bahwa adegan-adegan yang ada dalam Film Ayat-ayat cinta sama saja dengan adegan sinetron yang di tayangkan oleh berbagai TV di Indonesia seperti seorang Cowok yang miskin yang berjalan tiba-tiba ditabrak oleh cewek yang kaya raya kemudian cewek tersebut jatuh cinta kepada cowok yg di tabrak atau yang paling dekat dengan adegan di Film itu adalah seorang cowok kampung datang ke kota kemudian mencari tempat kost di kota, kemudian ketemu dengan anak gadis yang punya kost dan anak gadis itu jatuh cinta kepada cowok kampung tadi.
Prestasi yang paling menonjol adalah berhasilnya Tim mengemas sehingga Film ini menjadi hangat di perbincangkan oleh masyarakat di seluruh Indonesia sampai-sampai kedua petinggi kita yang sedang sibuk dengan persoalan bangsa ini masih dapat menyempatkan diri untuk menonton Film tersebut. Bagaimana kata hati kedua pemimpin kita itu setelah menonton Film tersebut...?
Kalau saya ditanya tentang Film tersebut, saya akan bertanya balik, dimanakah Ayat-ayat Cinta Itu....?

Tuesday, March 25, 2008

Melangkah Dengan Sebuah Nilai

Entah hari ini atau lusa saya akan mulai menulis satu cerita yang berseri mengenai perjalan hidup. Cerita ini merupakan kesimpulan sementara tentang hasil pengamatan saya sendiri mulai dari pertama mengenal dunia ini sampai saat ini. Seandainya semua perjalanan itu kita sadari maka kata yang selalau menyertainya adalah kata "NILAI". Nilai itu sendiri saya maksudkan adalah nilai yang positif. Sampai saat ini saya belum menemukan judul apa yang tepat dari cerita tersebut dan kapan tulisan itu dimuali.

Saya tidak akan memberikan jangka waktu dari tulisan pertama ke tulisan ke dua karena kemungkinan jarak antara tulisan yang satu ke tulisan kedua bisa 1 hari, 1 minggu atau satu bulan.

Wednesday, March 05, 2008

Menerima Apa Adanya

Apa yang kita lakukan dimasa lalu dan saat ini adalah terbentuk oleh prospek atau konsep yang kita bayangkan kedepan, oleh sebab itu bayangan tersebut akan menuntun kita untuk melengkapi segala sesuatu yang kita bayangkan dan dari bayangan tersebut terbentuklah sebuah standar kehidupan yang akan dijalani dimasa yang akan datang.
Setiap manusia yang normal mempunyai standar hidup yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya tetapi standar itu akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Pentingnya persiapan dalam menghadapi perubahan standar minimal kehidupan adalah dalam rangka menghindari tekanan yang terjadi baik yang datang dari luar maupun dari dalam lingkungan kita sendiri.
Sangat mudah mengatur semua kejadian dalam hidup kita apabila dapat menyadari setiap perubahan-perubahan yang terjadi, tapi bagaimana kalau kita tidak pernah tau dan sadar apa yang akan kita lakukan dimasa yang akan datang. Menerima apa adanya merupakan satu-satunya tindakan yang paling mumpuni untuk melawan ketidak tahuan itu karena apa yang telah kita lakukan tidak akan mungkin bisa kita putar kembali.

Thursday, February 28, 2008

Amanah Yang Terabaikan

Menyaksikan seorang anak meninggalkan kampung halaman demi mengejar yang dinamakan pendidikan yang lebih tinggi adalah dambaan setiap orang tua walaupun akan berpisah dengan sang anak. Apa yang terlihat selama ini adalah sebagai anak yang diberi mandat oleh orangtuanya untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya di negeri orang tidak pernah menyadari tujuan atau keinginan orang tua yang sudah rela melepas sang anak untuk jauh darinya.
Kejadian yang terjadi di sebuah Universitas termuka di Sulawesi Selatan adalah bentuk penghiananatan terhadap harapan orang tua yang mengharapkan anaknya kelak menjadi orang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga baik dimata sesama manusia maupun dihadapan yang mahakuasa. Tawuran dianggap sebagai bentuk kegiatan tahunan untuk menunjukkan kepada pendatang baru dikampus atau yang dinamakan Mahasiswa baru bahwa Fakultasnya adalah yang paling berani atau yang paling berkuasa. Dapat dipastikan bahwa meraka yang terlibat tidak pernah memikirkan bahwa tawuran antar Fakultas merupakan suatu Pencitraan yang sangat buruk terhadap Kampus baik didalam negeri sendiri maupun di dunia Internasional. Perlu disadari bahwa Pencitraan seperti itu akan berdampak pada mereka kelak sebagai alumni yang akan bersaing dengan orang-orang yang memiliki kompetensi yang sama dari kampus yang berbeda, dari Provinsi yang berbeda dan dari negeri yang berbeda.
Semula saya tidak memperdulikan apa yang terjadi dikampus tersebut tetapi lama kelamaan sebagai orang yang berasal dari daerah yang sama merasa terusik dengan ucapan-ucapan setiap orang ada didekat saya. Kalau boleh saya menyampaikan Pesan, kepada teman-teman disana yang terlibat dalam pertikaian itu tolong jaga yang namanya pencitraan karena sekali kita membuat Pencitraan yang buruk akan sulit untuk memperbaikinya. Tanpa kita sadari akan berdampak kepada semua orang-orang berasal dari daerah yang sama dan berada di seluruh penjuru negeri ini.
Pikirkanlah Kawan...

Tuesday, February 26, 2008

Pengabdian Tanpa Ujung

Waktu terus berjalan sehingga tanpa terasa saya sudah menyaksikan sebuah kebijakan yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya. Tahun 2005 dibentuk satu Direktorat Jenderal Baru di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang diberi nama Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal ini adalah khusus untuk mengurus Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ada di Negeri ini dengan berbagai permasalahannya, mulai dari kesejahteraan guru yang tanpa mengabaikan mutu. Sampai saat ini sudah banyak kebijakan yang sudah di terapkan sampai yang paling populer saat ini adalah Sertifikasi Guru.

Belum sempat melihat dampak dari semua kebijakan itu, sekarang sudah masuk lagi ke sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah membayangkan seperti apa kebijakan yang ada di dalamnya. Pada saat pimpinan di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berganti maka pada saat itu juga saya berada di lingkungan itu.