Thursday, April 24, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 2)

Bangun pagi kemudian bersiap-siap untuk berangkat kesekolah adalah kegiatan rutin yang selalu saya jalani pada saat itu. Dengan bangga menggenggam sebuah buku yang kebetulan buku tersebut mempunyai gambar dibagian luarnya sehingga dengan sengaja gambar tersebut dibiarkan terlihat oleh semua orang yang kebetulan berpapasan dengan saya, dan lama-lama gambar buku tersebut memudar karena selalu terkena sinar matahari karena pada saat itu belum menggunakan tas untuk menyimpan segala peralatan tulis menulis.
Kata-kata yang selalu terdengar di telinga saya bahkan telinga teman-teman sebaya pada saat itu adalah "Gantunglah Cita-citamu setinggi langit " namun kata-kata itu gampang dimengerti tetapi karena keterbatan wawasan maka kata-kata tersebut nyaris terabaikan. Bagaimana mungkin kita mau menggantungkan cita-cita atau bermimpi-mimpi kalau untuk melihat ibukota kecamatan saja bisa dihitung jari karena kesempatan berkunjung ke ibukota kecamatan kalau ada perayaan 17 Agustusan.
Untuk memperoleh wawasan sangat membutuhkan yang namanya media teknologi informasi baik cetak maupun elektronik. Pada saat itu ketika masih duduk dibangku sekolah dasar jangankan Televisi atau Radio, yang namanya koran saja kita tidak pernah memegang wujudnya, kita cuma mengenalnya dari gambar-gambar pada buku yang kita punya. Oleh sebab itu kita mau mengambil inspirasi dari mana...? tidak pernah menonton televisi, tidak pernah dengar Radio dan bahkan jarang sekali membaca yang namanya koran. Kita dapat membaca koran kalau ada tetangga yang kebetulan mempunyai keluarga di kota kemudian mendapat kiriman yang kebetulan pembungkusnya adalah koran, itupun adalah berita yang entah berapa bulan lewat.

Tuesday, April 08, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 1)

Saya dilahirkan di sebuah desa yang penuh dengan kedamaian yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari ibu kota Kecamatan, 60 kilometer dari ibu kota Kabupaten dan sekitar 350 kilometer dari Ibu Kota Propinsi. Seperti halnya anak-anak yang saya dibesarkan dengan penuh kesederhanaan tapi penuh dengan cinta kasih mulai dari kedua orang tua, kakek dan nenek.
Sebagai bentuk tanggung jawab bapak sebagai kepala keluarga maka pada saat itu kita sering ditinggal bahkan sampai setahun lamanya untuk menghidupi keluarga. Bapak mempunyai saudara laki-laki tapi pada saat beliau meninggal dunia pada saat sedang belajar di Sekolah menengah Atas sehinggga praktis pada saat itu tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang kakak. Pada saat itu ibu yang merangkap sebagai kepala keluarga karena kakek pada saat sudah tua sedang nenek juga sudah duluan menghadap yang maha kuasa.
Pada saat umur menginjak 6 tahun saya dimasukkan ke sebuah sekolah formal di desa kami bersama teman-teman sebaya walau sebelumnya tidak mengenal yang namanya Pendidikan Anak Usia Dini seperti yang ada di kota pada saat itu. Perasaan bangga dan terharu ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah dengan memakai perlengkapan yang serba baru walaupun tidak pas di badan.