Thursday, February 28, 2008

Amanah Yang Terabaikan

Menyaksikan seorang anak meninggalkan kampung halaman demi mengejar yang dinamakan pendidikan yang lebih tinggi adalah dambaan setiap orang tua walaupun akan berpisah dengan sang anak. Apa yang terlihat selama ini adalah sebagai anak yang diberi mandat oleh orangtuanya untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya di negeri orang tidak pernah menyadari tujuan atau keinginan orang tua yang sudah rela melepas sang anak untuk jauh darinya.
Kejadian yang terjadi di sebuah Universitas termuka di Sulawesi Selatan adalah bentuk penghiananatan terhadap harapan orang tua yang mengharapkan anaknya kelak menjadi orang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga baik dimata sesama manusia maupun dihadapan yang mahakuasa. Tawuran dianggap sebagai bentuk kegiatan tahunan untuk menunjukkan kepada pendatang baru dikampus atau yang dinamakan Mahasiswa baru bahwa Fakultasnya adalah yang paling berani atau yang paling berkuasa. Dapat dipastikan bahwa meraka yang terlibat tidak pernah memikirkan bahwa tawuran antar Fakultas merupakan suatu Pencitraan yang sangat buruk terhadap Kampus baik didalam negeri sendiri maupun di dunia Internasional. Perlu disadari bahwa Pencitraan seperti itu akan berdampak pada mereka kelak sebagai alumni yang akan bersaing dengan orang-orang yang memiliki kompetensi yang sama dari kampus yang berbeda, dari Provinsi yang berbeda dan dari negeri yang berbeda.
Semula saya tidak memperdulikan apa yang terjadi dikampus tersebut tetapi lama kelamaan sebagai orang yang berasal dari daerah yang sama merasa terusik dengan ucapan-ucapan setiap orang ada didekat saya. Kalau boleh saya menyampaikan Pesan, kepada teman-teman disana yang terlibat dalam pertikaian itu tolong jaga yang namanya pencitraan karena sekali kita membuat Pencitraan yang buruk akan sulit untuk memperbaikinya. Tanpa kita sadari akan berdampak kepada semua orang-orang berasal dari daerah yang sama dan berada di seluruh penjuru negeri ini.
Pikirkanlah Kawan...

Tuesday, February 26, 2008

Pengabdian Tanpa Ujung

Waktu terus berjalan sehingga tanpa terasa saya sudah menyaksikan sebuah kebijakan yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya. Tahun 2005 dibentuk satu Direktorat Jenderal Baru di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang diberi nama Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal ini adalah khusus untuk mengurus Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ada di Negeri ini dengan berbagai permasalahannya, mulai dari kesejahteraan guru yang tanpa mengabaikan mutu. Sampai saat ini sudah banyak kebijakan yang sudah di terapkan sampai yang paling populer saat ini adalah Sertifikasi Guru.

Belum sempat melihat dampak dari semua kebijakan itu, sekarang sudah masuk lagi ke sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah membayangkan seperti apa kebijakan yang ada di dalamnya. Pada saat pimpinan di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berganti maka pada saat itu juga saya berada di lingkungan itu.