Tuesday, December 11, 2012

Perlukah Mengganti Kurikulum (1)

Sesuatu yang sering kita lihat dan sering kita lakukan adalah membuat sesuatu yang baru pada saat kita memasuki sesuatu yang baru buat kita. Tidak terkecuali yang berkaitan dengan masalah kebijakan. Setiap kebijakan bisa dipastikan bahwa kebijakan tersebut sudah melalui berbagai macam kajian dan analisa yang menurut pembuat kebijakan tersebut menganggap itulah yang terbaik. Tapi yang namanya manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan akan mempunyai anggapan berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak dapat kita sembunyikan bahwa fenomena kebanyakan manusia saat ini sulit untuk mengakui sebuah hasil karya orang lain walaupun karya tersebut bagus dimata kebanyakan orang. Kita belum bisa dengan legowo mengatakan benar kalau itu memang benar dan mengatakan salah kalau memang itu salah tetapi yang ada adalah walaupun ditentang oleh banyak orang yang penting itu datangnya dari era saya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013 akan memberlakukan kurikulum yang dinamakan kurikulum 2013. Dengan segala pro dan kontra baik dari kalangan guru dan stakeholder pendidikan yang lain itu hanya pertanda sebuah proses demokrasi sedang berjalan. Dengan persiapan yang begitu singkat dengan uji publik apakah akan menhasilkan sebuah analisa yang mendalam ?. Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang dengan beberapa orang guru, mulai dari kepala sekolah, mantan kepala sekolah, guru senior dan guru muda meraka sangat menyayangkan adanya pergantian kurikulum. Salah satu yang membuat saya tercengang adalah salah satu dari guru tersebut mengatakan bahwa memahami kurikulum yang lama aja baru mulai dimengerti sekarang tapi kok mau diganti lagi. Lain halnya dengan salah satu guru yang masih muda, karena mungkin karena mereka masih idealis sehingga berpendapat begini : " kurikulum yang sekarang khan kita bisa improvisasi karena karakter murid berbeda-beda jadi kita bisa menyesuaikan kurikulumnya tapi kalau kurikulumnya ditentukan dari pusat itu sebuah kemunduran karena kalau begitu kita dipaksa memberikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisi murid " begitu katanya. Kasus diatas adalah salah satu contoh kondisi yang dialami oleh pelaku yang sebenarnya yang berhadapan langsung dengan obyek kurikulum itu sendiri. Secara jujur dari hati nurani kita apakah kita mengetahui persis apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh pelaku-pelaku yang ada pada garda terdepan saat ini khususnya guru, murid dan kepala sekolah. Satu hal yang perlu direnungkan adalah dalam membuat sebuah kebijakan tentang kurikulum akan memakan biaya yang tidak sedikit yaitu ratusa milyar rupiah. Pada saat kebijakan tersebut baru akan di pahami atau dimengerti tapi mau diganti lagi dengan kebijakan baru maka otomatis akan menghambur-hambur uang ratusan milyar.