Tuesday, November 11, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 4)

Ternyata pergaulan banyak juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang lebih tinggi pula, entah karena siswanya datang dari berbagai daerah atau karena wawasan siswanya yang sudah menjadi libih luas. Berbagai macam tingkah laku dan cara berbagaul yang nampak dikalangan mereka, mulai dari memilih teman sampai kepada cara memilih topik pembahasan ketikan kumpul dengan temannya.

Ketika saya memasuki pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP), persaan saya semakin tidak karuan karena ternyata apa yang selama ini saya lihat di SD berbeda dengan apa yang saya lihat saat ini. Yang paling tersa adalah kebiasaan kita berbahasa yang menuntut kita untuk meninggalkan bahasa daerah, sekarang kita harus selalu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Semua itu tidak jadi masalah kalau lawan bicara kita itu adalah sebelumnya kita tidak kenal, tapi bagaimana kalau lawan bicara kita yang sehari-harinya selalu memakai bahasa daerah, aneh sepertinya ingin menertawai diri sendiri.

Kesenjangan itu ternyata tidak pandang bulu, ternyata pada saat aku di SMP kesenjangan itu sudah sangat jelas terlihat. Mulai dari berangkat sekolah sampai kepada perbincangan tentang acara yang ada di televisi yang kebetulan pada saat itu yang namanya Antena Parabola sudah mulai masuk di Ibukota kecamatan tempat sekolah SMP saya berada walaupun kita yang dari desa televisi hitam putih aja gak punya. Upaya saya saat itu adalah berusaha untuk memasuki sebuah kelompok yang bisa nyambung dengan saya yang dalam hati kecil ingin memeperolah suatu pengakuan atau kebanggaan bisa berteman dengan mereka tapi semua itu ternyata tidak gampang karena paling tidak kita harus mempunyai nilai jual yang sebenarnya satu saja sudah cukup, seperti dibidang olahraga, seni atau modal tampang keren. Tetapi dasar dari kampung satupun kita tidak punya untuk bersaing ditingkat kecamatan, jangankan mau melihat bakat kita itu apa, wujudnya saja kita gak pernah lihat karena maklum playgroup aja kita gak pernah injak apalagi Taman kanak-kanak yang kata orang tempat untuk melihat bakat kita.

Karena dasar memang tidak punya mimpi maka kalah sebelum bertanding itu adalah hal yang paling sering kita alami. Oleh sebab itu hanya belajar dan belajarlah yang kita jadikan kegiatan rutin walaupun entah kita mau kemana nantinya. Dengan segala perjuangan akhirnya bisa juga menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun dan berharap masuk 10 besar dari seluruh siswa SMP pada saat itu tapi ternyata kata guru saya hampir masuk 10 besar, saya sendiri bingung hampir itu berada diposisi mana karena sampai aku meninggalkan sekolah saya tidak pernah melihat peringkat itu.

Selamat berjuang....

No comments: