Monday, August 11, 2008

Ketika Dia Menuntun Saya (Bag 3)

Olahraga yang paling populer pada saat saya duduk di Sekolah Dasar adalah olahraga tinju karena kebetulan pada saat itu yang menjadi juara dunia adalah orang Indonesia yaitu Elyaspikal. Karena pada saat itu dikampung belum ada listrik apalagi televisi maka informasi tentang petinju kebanggan Indonesia tersebut hanya bisa di saksikan lewat serial wayang kertas atau didengar lewat radio transistor tetangga yang sangat menggelegar dan diulas pada saat selesai pertandingan.
Karena begitu terkenalnya karena setiap pertandingan selalu mempertahankan juaranya timbul juga keinginan untuk menyaksikan secara langsung di televisi bagaimana sang petinju tersebut mengalahkan lawan-lawannya. Suatu ketika ada sorang sopir mobil yang memperistrikan orang kampung saya mengajak kakek saya untuk menonton aksi petinju tersebut maka ajakan tersebut diasambut dengan baik karena kebetulan kakek saya sangat mengagumi petinju tersebut. Mungkin karena sering memperhatikan saya bermain-main dengan wayang bergambar sang petinju tersebut, maka kakek tidak lupa untuk mengajak saya untuk menonton langsung di layar televisi.
Dengan mengendarai mobil mini bus yang warnanya sudah tidak jelas yang penuh dengan bekas-bekas ketokan yang baru kalai ini saya menyadari kalau mobil tersebut kalau istilah sekarang lagi proses ketok magic. Dengan menempuh jarak kurang lebih 40 km menulusuri jalanan yang belum diaspal sampailah kita ditempat tujuan untuk menonton secara langsung aksi petinju juara dunia dari Indonesia. Pada saat itu jelas terlihat begitu antusisnya orang berdatangan untuk menyasikan aksi petinju kebanggaan Indonesia tersebut.
Karena pertandingan belum dimulai maka kita pergunakan untuk istirahat setalah menempuh perjalan yang sangat melelahkan sampil memperhatikan tuan rumah sedang memutar-mutar antena televisi yang tiangnya dari bambu untuk mencari posisi yang tepat untuk menagkap siaran TVRI yang paling sempurna tanpa ada bintik-bintik.

No comments: